Picu Lebih 2.000 Kematian di Perancis, Ahli Sebut Fenomena Heat Dome Sangatlah Kecil akan Terjadi di Indonesia

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Selasa, 7 Juli 2026 | 20:07 WIB
Ilustrasi. (f: kompas.com)
Ilustrasi. (f: kompas.com)

 

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Akibat gelombang ekstrem, suhu di Eropa kini naik menjadi 40 derajat Celsius. Fenomena ini dikaitkan dengan heat dome, atau kubah panas berisi tekanan udara yang terperangkap.

Di Eropa, heat dome menimbulkan banyak korban jiwa. Bahkan di Prancis, untuk tahun ini saja mengakibatkan lebih dari 2.000 kasus kematian.

Apakah kasus iklim seperti ini bisa terjadi di Indonesia?

Guru Besar Geofisika Universitas Brawijaya (UB), Prof. Adi Susilo, menjelaskan heat dome tidak mudah diprediksi karena dipengaruhi berbagai kondisi atmosfer yang bersifat dinamis. Rata-rata terjadi di kawasan daratan yang luas dan memiliki lintang tinggi. 

Contohnya seperti Eropa dan Amerika Utara. Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik sirkulasi atmosfer serta luas daratan yang memungkinkan panas bertahan lebih lama dibandingkan wilayah kepulauan.

“Misalnya di Eropa itu panas lebih mudah terakumulasi dan sulit dilepaskan. Karena itu heat dome lebih mungkin terjadi di wilayah seperti Eropa dan Amerika dibandingkan negara kepulauan,” ujarnya, saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (7/7/2026).

Adi menilai peluang heat dome terjadi di Indonesia sangatlah kecil. Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan, Indonesia memiliki mekanisme alami yang membantu melepaskan panas melalui sirkulasi udara dan penguapan dari permukaan laut.

“Indonesia akan sangat sulit mengalami heat dome karena wilayah kita didominasi lautan. Panas lebih mudah dilepaskan sehingga tidak terperangkap seperti di kawasan dengan daratan yang luas,” jelasnya.

Hanya ia meminta masyarakat mengetahui, bahwa tak semua suhu panas yang ekstrem dikaitkan dengan heat dome.

Ia menyebutkan, heat dome berbeda dengan heat wave atau gelombang panas biasa. Jika heat wave merupakan peningkatan suhu udara dalam periode tertentu, heat dome terjadi karena adanya lapisan tekanan tinggi yang memerangkap udara panas sehingga suhu menjadi jauh lebih tinggi.

“Heat dome dapat diibaratkan seperti kubah panas. Panas yang seharusnya lepas ke atmosfer justru terperangkap sehingga terus memantul kembali ke permukaan bumi. Mekanismenya hampir menyerupai efek rumah kaca, tetapi terjadi secara lokal pada wilayah tertentu,” jelasnya.

Di dalam heat dome, panas tidak bisa keluar sehingga terus terakumulasi. Inilah yang membedakannya dengan gelombang panas biasa.

Meskipun demikian masyarakat tetap perlu mewaspadai paparan panas matahari, terutama ketika intensitas radiasi matahari meningkat pada musim kemarau.

Menurutnya, risiko yang lebih mungkin terjadi di Indonesia adalah dampak paparan sinar ultraviolet yang dapat membahayakan kesehatan apabila aktivitas di luar ruangan dilakukan terlalu lama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X