SUKABUMI, RIAUSATU.COM — Prestasi ilmiah tingkat global diraih Muhammad Irfansyah Maulana (26), santri asal Sukabumi dan alumni Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.
Inovasinya di bidang teknologi kendaraan ramah lingkungan berupa katalis hidrogen untuk sistem fuel cell resmi memperoleh hak paten di Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Capaian tersebut merupakan hasil riset selama lima tahun yang mengantarkan Irfansyah meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) dari Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST), Korea Selatan, pada 17 November 2025.
Penelitiannya berfokus pada peningkatan efisiensi dan ketahanan teknologi fuel cell, yang saat ini menjadi salah satu tumpuan pengembangan kendaraan rendah emisi di berbagai negara.
Teknologi fuel cell menghasilkan listrik melalui reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen, dengan air sebagai satu-satunya produk sampingan.
Berbeda dengan mesin berbahan bakar fosil, sistem ini tidak menghasilkan emisi karbon sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.
“Itulah mengapa fuel cell sangat ramah lingkungan, karena produk sampingnya bukan emisi karbon seperti bensin, melainkan hanya air,” kata Irfansyah, dikutip dari NU Online.
Namun, ia menjelaskan bahwa performa fuel cell selama ini dibatasi oleh lambatnya reaksi oxygen reduction reaction (ORR).
Untuk mengatasinya, dibutuhkan katalis yang efektif.
Katalis konvensional umumnya berbasis platinum (Pt) yang mahal serta mudah mengalami penurunan kinerja akibat korosi.
Melalui risetnya, Irfansyah bersama tim di Korea Selatan mengembangkan katalis baru berbasis paduan PtCo intermetalik yang didoping nitrogen.
Rekayasa struktur pada tingkat atom tersebut menghasilkan katalis dengan aktivitas ORR lebih tinggi sekaligus stabil dalam jangka panjang.
“Kami merekayasa struktur katalis pada level atom sehingga aktivitas ORR meningkat dan kestabilannya lebih baik,” ujar Irfansyah.
Temuan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi kendaraan hidrogen sekaligus memperpanjang umur pakainya.
Hasil penelitian tersebut juga telah dipublikasikan dalam Journal of the American Chemical Society (JACS), salah satu jurnal ilmiah paling bereputasi di dunia.