“Di California, kami menyaksikan badai petir hebat karena air laut hangat menyediakan panas dan kelembapan,” jelas profesor dinamika iklim di Universitas Leeds, Amanda Maycock.
Ia menambahkan, air laut yang hangat menciptakan sungai atmosfer, pita udara lembap yang membawa uap air ke daratan, menimbulkan hujan lebat, atau bahkan salju saat musim dingin. Namun, dampaknya tidak hanya pada cuaca, tetapi juga pada kehidupan laut.
Dilansir dari CNN, Jumat (19/9/2025), fenomena ini dapat mengganggu rantai makanan laut. Sebab, plankton dan organisme kecil yang menjadi dasar ekosistem tidak mampu bertahan di perairan hangat.
Akibatnya, ikan seperti salmon dan cod yang bergantung pada perairan dingin bisa bermigrasi ke wilayah lain atau mati, menimbulkan kerugian besar bagi nelayan dan industri perikanan di sepanjang pesisir Pasifik.
Sejumlah peneliti juga menemukan bahwa burung laut yang bergantung pada ikan di perairan utara mulai mengalami penurunan populasi.
Saat ini, permukaan laut di wilayah timur Pasifik tropis menunjukkan suhu yang jauh lebih dingin, sebagai tanda khas La Nina.
Fenomena ini, yang menjadi kebalikan dari El Nino, cenderung membawa cuaca lebih dingin di awal musim dingin di Inggris.
Namun, La Nina kali ini diperkirakan cukup lemah. Artinya, pemanasan ekstrem di Pasifik utara kemungkinan lebih berpengaruh terhadap cuaca musim dingin di Eropa.
“Kedua penggerak di Pasifik utara dan tropis ini akan beraksi bersama-sama musim dingin ini,” ujar Maycock.
“Namun karena La Nina cukup lemah, suhu hangat ekstrem di Pasifik utara mungkin lebih menentukan arah musim dingin mendatang," pungkas dia.***