"Jumlah kasus dan kematian yang kita lihat dalam jangka waktu yang sangat singkat, ditambah dengan penyebarannya di beberapa zona kesehatan dan sekarang melintasi perbatasan, sangat mengkhawatirkan," kata Trish Newport, Manajer Program Darurat MSF.
Pengangkutan peralatan medis dalam skala besar merupakan tantangan di Kongo, sebuah negara dengan lebih dari 100 juta penduduk.
Ini adalah wabah Ebola ke-17 yang melanda Kongo, dengan para pejabat memperingatkan risiko penyebaran yang tinggi.
"Terdapat ketidakpastian yang signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran geografisnya," kata WHO.
Namun, pernyataan itu menambahkan, tingkat positif yang tinggi dari sampel awal, konfirmasi kasus di dua negara, dan meningkatnya laporan kasus yang dicurigai.
"Semuanya menunjukkan potensi wabah yang jauh lebih besar daripada yang saat ini terdeteksi dan dilaporkan, dengan risiko penyebaran lokal dan regional yang signifikan," tutur WHO.
Wabah Ebola sebelumnya yang telah menewaskan sekitar 15.000 orang di Afrika selama 50 tahun terakhir, muncul pada Agustus tahun lalu di wilayah tengah.
Wabah itu menewaskan sedikitnya 34 orang, sebelum dinyatakan telah diberantas pada bulan Desember.
Hampir 2.300 orang meninggal dalam wabah paling mematikan di Kongo antara tahun 2018 dan 2020.
Ebola, yang diyakini berasal dari kelelawar, dapat menyebabkan pendarahan hebat dan kegagalan organ.
Menurut WHO, wabah selama setengah abad terakhir telah menyebabkan tingkat kematian di antara mereka yang terdampak berkisar antara 25 persen hingga 90 persen.***