internasional

Lonjakan Angka Kematian di Portugal Akibat Panas Ekstrem dalam 20 Hari, Segini Jumlahnya

Sabtu, 23 Agustus 2025 | 17:46 WIB
Ilustrasi. (f: kompas.com)

LISBON, RIAUSATU.COM – Gelombang panas yang melanda Portugal pada Juli dan Agustus 2025 mengakibatkan lonjakan angka kematian.

Dalam 20 hari berturut-turut, yakni 27 Juli hingga 15 Agustus, tercatat 1.331 kematian berlebih atau sekitar 25 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata.

Data ini diungkap surat kabar Público berdasarkan analisis dari Sistem Informasi Sertifikat Kematian (SICO).

Direktorat Jenderal Kesehatan (DGS) menyebut, kasus kematian berlebih tercatat di seluruh wilayah, dengan insiden paling tinggi di kawasan utara, tengah, dan selatan Alentejo.

Menurut otoritas kesehatan, panas ekstrem dengan suhu tinggi menjadi faktor utama yang memicu dehidrasi serta memperburuk penyakit kronis, khususnya kardiovaskular dan pernapasan. Dampak terparah dialami kelompok usia lanjut.

Institut Kesehatan Nasional Dr. Ricardo Jorge mencatat, dari 34 hari kelebihan angka kematian pada Juli–Agustus, sebanyak 29 hari terkait dengan kematian di atas perkiraan pada kelompok usia di atas 70 tahun.

“Kelompok usia 75 tahun ke atas, dengan beban penyakit tertinggi dan kapasitas respons fisiologis terendah terhadap panas, adalah yang paling terdampak,” ungkap DGS dalam laporannya, dikutip dari Euronews pada Jumat (22/8/2025),  dilansir kompas.com.

Juli disebut sebagai periode paling kritis, dengan dua gelombang panas yang terjadi pada 1–9 Juli dan 25–31 Juli.

Institut untuk Kelautan dan Atmosfer Portugis (IPMA) mengonfirmasi, Juli 2025 menjadi bulan terpanas ke-9 sejak tahun 1931. Pada 3, 4, 30, dan 31 Juli, suhu tercatat lebih dari 3 derajat celsius di atas rata-rata bulanan.

Meski ada lonjakan angka kematian akibat panas ekstrem, data kumulatif hingga 18 Agustus menunjukkan total kematian tahun ini (77.292) masih sejalan dengan periode yang sama pada 2024 (76.849).

Perbedaannya, tahun ini bulan Juli menjadi puncak lonjakan kematian, sementara pada 2024 puncaknya terjadi Januari bertepatan dengan merebaknya epidemi flu.***

Tags

Terkini