JAKARTA, RIAUSATU.COM - Europe's Copernicus Climate Change Service (C3S) memprediksi 2024 akan menjadi tahun dengan suhu terpanas sejak pencatatan kali pertama. C3S sendiri adalah layanan gratis dari Uni Eropa yang menyediakan data dan perangkat terkait iklim.
Menurut data C3S yang dirilis pada Kamis (7/11/2024), suhu rata-rata global tahun ini naik lebih dari 1,5 derajat Celsius, atau lebih hangat dibandingkan tingkat rata-rata kenaikan sejak masa pra-industri.
Sebagai informasi, pra-industri mengacu pada periode tahun 1850-1900, waktu belum ada aktivitas manusia yang menyebabkan pemanasan global, seperti penggunaan bahan bakar minyak.
Para ilmuwan berpendapat, data ini seharusnya menjadi peringatan menjelang konferensi iklim ke-29 PBB (COP29) yang diselenggarakan pekan depan di Azerbaijan.
"Rekor terbaru ini memberikan peringatan keras kepada para pemerintah di COP29 bahwa perlunya tindakan segera untuk mencegah pemanasan global lebih lanjut," ujar Kepala Eksekutif Royal Meteorological Society, Liz Bentley, dikutip dari BBC, Kamis (7/11/2024), dilansir kompas.com.
Suhu global tercatat mencapai titik tertinggi selama 10 bulan pertama tahun 2024. Berdasarkan data C3S, suhu rata-rata dari Januari hingga Oktober tahun ini adalah 0,71 derajat Celsius.
Angka itu melebihi suhu rata-rata pada 1991-2020 dan 0,16 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Oktober 2024 juga merupakan bulan Oktober terpanas kedua dengan suhu udara permukaan mencapai 15,25 derajat Celsius, lebih tinggi 0,80 derajat Celsius dari rata-rata Oktober tahun 1991-2020.
Proyeksi C3S menunjukkan, kemungkinan besar pada akhir tahun 2024 suhu global akan 1,55 derajat Celsius lebih hangat daripada masa pra-industri, melampaui rekor saat ini, yaitu 1,48 derajat Celsius.
Kenaikan suhu lebih dari 1,5 derajat Celsius ini bakal menjadi yang pertama kalinya dalam satu tahun kalender. Namun menurut C3S, masih ada potensi hal itu tidak terjadi jika anomali suhu rata-rata global turun pada dua bulan terakhir tahun 2024.***