Tanpa restu dari pusat, peluang SF menembus bursa calon ketua praktis tertutup.
“Bahlil harus mendengar suara kader di daerah. Jangan sampai partai gaduh hanya karena memaksakan orang yang ditolak mayoritas,” kata Yulan menambahkan.
Sejumlah pengamat menilai polemik ini mencerminkan tarik menarik kepentingan antara elite pusat dan daerah.
Diskresi ketua umum kerap dijadikan jalan pintas untuk menyelamatkan figur tertentu, meski berisiko menabrak aspirasi kader akar rumput.
“Kalau diskresi dipaksakan, dampaknya bukan hanya resistensi internal, tapi bisa menjadi bumerang elektoral bagi Golkar di Riau,” ujar seorang pengamat politik Universitas Riau yang enggan disebut namanya.
Kini bola berada di tangan Bahlil Lahadalia. Apakah ia akan mendengar suara kader di daerah atau tetap memberi jalan bagi SF Hariyanto, figur yang dinilai sarat kontroversi.
Jawaban itu bisa menentukan arah konsolidasi Golkar Riau menjelang Pemilu 2029. ***