politik

Bacaleg Anto Cemara Minta Masyarakat Cerdas & Bijak Memilih di Pemilu 2024: Pertaruhannya Mahal

Jumat, 22 September 2023 | 13:08 WIB
Bacaleg DPRD Limapuluh Kota dari Partai Golkar, Alfianto. (f: Dok. Pribadi)

LIMAPULUH KOTA, RIAUSATU.COM - Alfianto SH, bakal calon anggota legislatif (bacaleg) untuk DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, meminta masyarakat cerdas dan bijak menggunakan hak politik di Pemilu 2024 mendatang.

"(Pemilu 2024) ini merupakan salah satu momentum yang sangat menentukan, baik dalam konteks kepentingan daerah maupun seluruh anggota masyarakat yang bermukim di dalamnya," ujar politisi Partai Golongan Karya (Golkar) itu.

Dikatakan tokoh muda yang akrab dipanggil Anto Cemara ini, pemilu merupakan wahana untuk memilih tokoh-tokoh terbaik daerah dan negara, yang dipercaya duduk di lembaga legislatif dengan sejumlah tingkatannya itu.

"Merekalah nanti yang akan diberi wewenang merumuskan kebijakan-kebijakan pembangunan, termasuk mengawasi urusan pemerintahan dan kemasyarakatan," tambah bacaleg dari Dapil II Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kapur IX tersebut.

Mereka pula, menurut Anto Cemara, memiliki wewenang untuk menyusun regulasi dan anggaran (budgetting) bersama dengan eksekutif.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai wakil rakyat, menurut Anto Cemara, para legislator yang berasal dari sejumlah partai politik (parpol) itu bermitra dengan jajaran eksekutif sebagai mitra yang sejajar.

"Kita tahu, sebagian besar mereka yang berkiprah di eksekutif merupakan individu yang sangat kompeten di bidangnya," sebut Anto Cemara. "Rata-rata memiliki latar belakang akademis S1 dan S2, bahkan S3, dengan berbagai disiplin ilmu," bebernya.

Menurut Anto Cemara, stigma sebagai mitra yang sejajar baru akan tercapai kalau kemampuan para legislator bisa mengimbangi mereka yang duduk di jajaran eksekutif, baik dari segi keilmuan maupun pengalaman.

Makanya, menurut Anto Cemara, dinilai riskan menjatuhkan pilihan politik ke sosok caleg tertentu tanpa terlebih dahulu mempelajari lebih mendalam kemampuan, pengalaman, track record (rekam jejak) dan latar belakang akademis caleg dimaksud.

"Takutnya nanti kalau sudah duduk tidak mampu berargumen dengan jajaran eksekutif, dan cenderung mengiyakan saja kemauan mitranya karena tidak memiliki kemampuan untuk itu," katanya. "Padahal bukan tidak mungkin masih banyak celah untuk dikritisi."

Taruhan sikap seperti itu, menurut Anto Cemara, tidak sederhana karena erat kaitannya dengan nasib sebuah kawasan dengan sejumlah anggota masyarakat yang bermukim di dalamnya.

Selain kemampuan akademis, menurut Anto Cemara, caleg juga diharapkan memiliki pengalaman berorganisasi dan kepekaan sosial yang tinggi. "Agar bila terpilih, tidak membuat jarak dengan masyarakat yang memilihnya," terang Anto Cemara.

Sebab, menurut Anto Cemara, bila si caleg tidak punya pengalaman mencempungi urusan sosial-kemasyarakatan dan kurang memiliki kepekaan sosial, bukan tidak mungkin rakyat hanya dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan politiknya.

"Setelah terpilih si caleg itu akan memposisikan diri berada di menara gading," ujarnya, bertamsil. "Jangan kan peduli dengan urusan rakyat yang memilihnya, untuk menemuinya saja alangkah susahnya."***

Tags

Terkini