peristiwa

Kartini dari Timur Tetap Mengajar Walau Honor Tak Dibayar 3 Tahun

Redaktur
Kamis, 21 April 2016 | 10:56 WIB

KUPANG, RIAUSATU.COM-Duka lara menjadi guru honorer nampaknya sudah menjadi kisah selalu terulang di negeri ini. Profesi menentukan masa depan generasi bangsa itu nyatanya tidak dihargai sebanding dengan pengabdiannya.

Salah satunya Adi Melijati Tameno. Seorang guru honor di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang pernah dipecat lantaran menanyakan gaji yang belum dibayarkan selama tiga tahun. Namun, semangat mengajar anak didiknya tidak pernah luntur, ketika diminta kembali ke sekolah itu.

Untuk menambah penghasilan di luar gaji honornya dibayar setiap enam bulan sekali, Melijati bekerja sambilan menjual jajanan di sekolah.

Melijati pernah dipecat secara sepihak oleh kepala sekolah lama, lantaran menanyakan gajinya melalui pesan singkat atau SMS. Akibat dari pesan singkat itu juga, Melijati dilaporkan ke polisi dengan tuduhan mencemarkan nama baik sekolah.

Tidak ada rasa dendam sedikit pun dengan aksi pemecatan itu. Dia malah merasa terpanggil kembali menjalani profesi sudah digeluti selama tujuh tahun itu. Menempuh medan berat, dengan jarak sepuluh kilometer dari rumah hingga sekolah, Melijati tetap semangat menjalaninya demi mencerdaskan generasi bangsa ini.

''Bersyukur ya karena sudah kembali walau dengan keterbatasan, tanpa apa-apa tetapi setidaknya pengabdian, talenta dan kemampuan yang ada. Saya punya, saya bisa jalankan. Saya bisa membagi sesuatu kepada orang, walau hanya anak kecil tapi satu hal yang luar biasa,'' kata Melijati ketika ditemui merdeka.com, Rabu (20/4).

Melijati merasa saat ini lebih mencintai profesi dijalaninya demi generasi penerus di pelosok tanah air. ''Semua teman-teman guru honor atau masih kontrak, jangan terikat dengan keuangan yang ada, ataupun materi yang ada. Karena kemampuan atau talenta yang ada adalah pemberian Tuhan. Mari kita melayani dengan kita membantu anak-anak yang ada untuk generasi ke depan,'' ujar Melijati.

Di hadapan teman-teman guru honor lainnya, maupun kepala sekolah yang baru, Melijati dikenal sebagai sosok perempuan patut ditiru. Sebab, dia tulus mengabdi tanpa memperhitungkan kekurangan selama ini dia hadapi.

''Saya mengamati, ibu Yati cukup bagus dalam mengajar anak didik. Dia mengajar itu dari kelas satu dan dua. Karena di sini kekurangan guru, maka ibu Yati ini rela untuk bisa mengajar dua kelas yang ini. Guru seperti ini perlu dicontoh karena dia tidak menghitung jerih payah, tapi dia dengan sukarela untuk membantu pendidikan di tempat ini, khususnya SD Negeri Oefafi ini,'' kata kepala sekolah SDN Oefafi, Welly Loude Banabera.

Kembalinya Melijati di SD Negeri Oefafi disambut gembira oleh anak-anak muridnya. Mereka merasa senang karena selama Melijati tidak hadir, hanya bisa bermain tanpa pelajaran hingga waktu sekolah usai.

''Senang, karena ibu sudah datang kembali, dan bisa belajar lagi. Karena selama ibu tidak ada, kami hanya bermain saja,'' kata Chintya, salah satu murid kelas dua SDN Oefafi. (dri)

Tags

Terkini

BMKG: Hujan Masih Berpotensi Mengguyur Riau

Selasa, 26 Mei 2026 | 11:05 WIB