otonomi

Kampar Saingi Jepang

Redaktur
Sabtu, 8 Agustus 2015 | 13:58 WIB

KAMPAR, RIAUSATU.COM-Pemerintah Kabupaten Kampar saat ini terus menyangi Negara Jepang untuk berbagai hal positif khususnya dalam membangun perekonomian kerakyatan, mulai dari pertanian, peternakan hingga tekstil.

''Untuk pertanian, jika di Jepang bawnag ditanam di atas rumah atau gedung, maka di Kampar bawnag dapat tumbuh dan dikembangkan pada lahan gambut,'' kata Bupati Kampar Jefry Noer kepada pers di Kampar, Sabtu (8/8), sebagaimana dilansir kamparkab.go.id.

Ia menjelaskan, untuk sektor pertanian, Kampar tidak kalah dengan Jepang, bahkan lahan di daerah yang berbaasan langsung dengan Ibu Kota Riau, Pekanbaru ini memiliki areal yang luas.

''Dulu banyak pihak yang tidak percaya kalau bawang merah tidak akan hidup dan berkembang di lahan gambut. Namun Kampar membuktikannya bahkan akan menjadi daerah pernghasil bawang di Riau atau Sumatera,'' katanya.

Jefry menjelaskan, saat ini sejumlah wilayah kecamatan telah mengembangkan tanaman bawang merah, lahannya juga terus bertambah.

Sementara itu untuk sektor peternakan, Pemda Kampar mengembangkan pembiakan sapi lewat pola integrasi dengan perkebunan sawit.

Untuk pakan diolah dari pelepah sawit dan untuk kotoran sapi kembali diolah hingga menjadi biogas dan biourine serta pupuk organik berkualitas tinggi.

Bahkan biogas yang dihasilkan kini telah dapat dimanfaatkan. Di lahan percotohan Program Rumah Tangga Mandiri Pangan Energi (RTMPE), Bupati Jefry Noer bahkan selalu menjamu tamu-tamunya dengan memasakan mie instan dari bahan bakar biogas hasil dari pengelolaan kotoran sapi.

''Rasanya tentu bukan lagi rasa kotoran sapi,'' kata Jefry dalam setiap kesempatan menjamu para tamunya di kawasan Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Kubang Jaya, Siak Hulu, Kampar.

Namun bedanya, di Jepang makanan langsung diolah dari kotoran hewan. Peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, sebelumnya sukses menciptakan kue berbahan dasar kotoran hewan.

Panganan ini berjenis cheese cake dimana salah satu bahan utama kue itu berasal dari bakteri yang dikumpulkan dari ampas kotoran gorila.

Juichi Yamagiwa adalah peneliti yang memiliki ide tersebut. Ia menyatakan kue tersebut sangat layak konsumsi dengan cita rasa yang khas.

Sementara untuk industri tekstil, saat ini Kampar juga telah menciptakan lapangan kerja yang luas. Kaum ibu-ibu rumah tangga diajarkan menjahit dan kemudian hasilnya akan dipasarkan secara luas. (dri)


Tags

Terkini