BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Saat Kemarau, Apa Riau Termasuk?

photo author
Evi Endri, Riau Satu
- Senin, 15 Juni 2026 | 19:20 WIB
Ilustrasi cuaca. (f: kompas.com)
Ilustrasi cuaca. (f: kompas.com)

 

JAKARTA, RIAUSATU.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan masih akan menggyuyur sejumlah daerah hingga Kamis (18/6/2026) di tengah masuknya musim kemarau di Indonesia.

Dalam periode tersebut, hujan bakal melanda Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

Menurut BMKG, kondisi itu disebabkan gelombang Kelvin yang diperkirakan bergerak melintasi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Jawa, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Sementara, gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Utara.

"Keberadaan sirkulasi siklonik yang diperkirakan masih bertahan di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra Utara serta berpotensi terbentuk di Kalimantan Tengah dapat memicu terbentuknya pola konvergensi, konfluensi, dan perlambatan angin," kata BMKG dalam keterangannya, Senin (15/6/2026), dilansir kompas.com.

"Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sekitar pesisir barat Sumatera Utara, sebagian Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan wilayah sekitarnya," imbuh BMKG.

Potensi pertumbuhan awan konvektif turut didukung kondisi atmosfer yang cukup labil, sehingga memperkuat proses konveksi lokal atau naiknya massa udara ke atmosfer di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Menurut BMKG, sinyal Madden–Julian Oscillation (MJO), aktivitas gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik, serta dukungan labilitas udara lokal, peluang terjadinya hujan masih cukup signifikan di sejumlah wilayah khususnya bagian utara beberapa hari ke depan.

"Sebagian wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan, saat ini mengalami musim kemarau yang ditandai dengan pengurangan curah hujan secara signifikan. Periode ini sering kali berhubungan dengan fenomena penurunan suhu udara yang kerap disebut sebagai bediding, merujuk pada fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin khususnya pada malam hingga menjelang pagi hari di daerah dataran tinggi," jelas BMKG.

Suhu minimum BMKG mencatat suhu minimum mencapai 9,4 derajat celsius pada 7 Juni 2026 di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Tambi Wonosobo yang mencapai 16,9 derajat celsius pada 8 Juni 2026.

Ini dipengaruhi Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin, lalu menyebabkan minimnya tutupan awan dan langit cenderung cerah.

"Minimnya tutupan awan tersebut membuat suhu udara pada malam hari terasa lebih dingin, karena panas permukaan bumi yang diserap pada siang hari lebih mudah dilepaskan ke atmosfer pada malam hari," tutur BMKG.

Di sisi lain, sela beberapa hari terakhir suhu maksimum lebih dari 35 derajat celsius tercatat di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Banten, Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, serta Kalimantan Timur.

Sejauh ini, 28,6 persen wilayah telah memasuki musim kemarau, dan diprediksi mengalami peningkatan pada Juni 2026 dengan sifat hujan cenderung di bawah normal akibat El-Nino Southern Oscillation (ENSO).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Evi Endri

Tags

Rekomendasi

Terkini

Tenang! Menkes Pastikan Harga Obat BPJS Tak Naik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:08 WIB
X