Ia menambahkan bahwa keterlambatan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal atau “pengaruh dunia”, termasuk kondisi distribusi dan ketersediaan material.
“Bisa saja keterlambatan aspal karena pengaruh dunia,” ujarnya.
Yulianus juga menegaskan bahwa material yang digunakan dalam pekerjaan tersebut adalah AC-WC dan bukan aspal buton.
“Materialnya AC-WC,” katanya.
“Karena pekerjaan ini tidak menggunakan aspal buton,” sambungnya.
Sekretaris Dinas PUPR tersebut menjelaskan bahwa pemesanan aspal dilakukan di wilayah Masamba, Kabupaten Luwu Utara.
“Dipesan di Masamba, Pak,” katanya.
Saat ditanya mengenai mekanisme pemesanan material tersebut, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci proses yang dilakukan oleh pihak rekanan.
“Saya tidak mengetahui cara proses pemesanan rekanan,” ujarnya.
Terkait pihak rekanan pelaksana pekerjaan serta transparansi koordinasi pekerjaan di lapangan, Sekretaris Dinas PUPR Kota Palopo, Yulianus, tidak memberikan jawaban yang lebih rinci. Ia menyebut bahwa jika kembali dikonfirmasi, jawaban yang diberikan akan tetap sama, yakni masih dalam proses.
“Sebenarnya itu pak, biar juga kita hubungi, pasti jawabannya sama, bapak masih sementara,” ujarnya.
Terkait Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan tersebut, saat dimintai data oleh awak media, Sekretaris Dinas PUPR Kota Palopo, Yulianus, tidak memberikan dokumen maupun penjelasan rinci terkait hal tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa jeda pekerjaan yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir tersebut dinilai tidak akan mempengaruhi kualitas hasil pekerjaan jalan.
“Coba kita lihat di mana pun, apakah ada pengaruh terhadap kualitas atau tidak, menurut saya tidak ada pengaruhnya,” tuturnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat berinisial MR menilai kondisi pekerjaan yang tidak tuntas tersebut membahayakan pengguna jalan.