TEMBILAHAN, RIAUSATU.COM-Indragiri Hilir (Inhil) merupakan perkebunan kelapa terbesar di Indonesia, namun sayangnya saat ini banyak kelapa yang sudah tua. Hal tersebut diungkapkan Muhibul Basyar, selaku Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau. ''Kelapa ini harus dipertahankan kualitas dan produksinya sehingga tidak perlu diganti dengan tanan lainnya,'' ujarnya kepada awak media di Kantor Gubernur Riau.
Umumnya kebun kelapa yang ada sudah tua dan rusak, salah satu penyebabnya adalah tata kelola airnya tidak berfungsi seperti awal-awal dulu.
''Tanaman kelapa tidak toleran terhadap air laut, berbeda dengan sagu. Ini juga penyebab banyaknya kelapa yang rusak di Inhil,'' ungkapnya.
Proses perbaikan terhadap tanaman kelapa ini tidak hanya tugas dinas perkebunan. Perbaikan tata air ini memerlukan dana yang cukup besar dan waktu yang cukup lama.
''Untuk pembuatan tanggul misalnya bukan tugas perkebunan lagi. Tapi ada dinas yang berwenang,'' katanya.
Proses reklamasi juga memakan waktu lama dan dana besar. Mengganti dengan tanaman lain jika memungkinkan akan dilakukan semisal sagu.
''Kita akan buat pilot project, untuk menjadi contoh masyarakat sehingga masyarakat tertarik dan mau menerima,'' sebutnya.
Petani kelapa saat ini berfikir bagaimana hidup sejahtera dari komoditi yang mereka tanam. Namun zaman berubah. ''Keadaan membuat harus berpindah komoditi. Petani harus siap dengan ini,'' sebutnya, sebagaimana dilansir halloriau.com.
Soal harga jual kelapa saat ini di Inhil masih terbilang rendah. Harga berkisar dari Rp 1. 630 sampai Rp 1.650 per kilogramnya.
''Karena kondisinya tidak seperti kebutuhan pangan yang bisa ditangani oleh Bulog. Dinas Perkebunan tidak bisa membeli kelapa sebanyak mungkin seperti Bulog,'' jelasnya. (dri)