Sabtu, 24 / Oktober / 2020
Pasar Otomotif Bergantung pada Vaksin COVID-19

| OTOMOTIF
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 14:11:27 WIB
JAKARTA, RIAUSATU.COM-Tidak ada industri yang tidak babak belur dihantam pandemi virus Corona. Mereka pun melakukan berbagai strategi untuk tetap mempertahankan bisnis di tengah situasi yang tak menentu ini.

Pabrikan otomotif Daihatsu pun kini bergantung pada situasi kesehatan masyarakat. Menurut Marketing Director PT. Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra, selama virus ini masih menjadi momok berbahaya di tengah masyarakat maka industri tak akan pernah dapat pulih seperti sedia kala.

"Sebenanarnya secara umum health view paling memegang peranan. Selama vaksin itu belum menjadi faktor penentu semua orang bisa beraktivitas dengan normal, maka pasar kami perkirakan belum akan kembali ke kondisi 2019," ujar Amel dalam sebuah sesi tanya jawab pers secara virtual, Kamis (15/10/2020), sebagaimana dilansir detikoto.

Berkaca pada kondisi saat ini, Daihatsu memproyeksikan kondisi pasarnya belum akan membaik pada tahun depan. Amel memperkirakan penjualan Daihatsu bisa setidaknya menyamai penjualan di tahun 2019 baru pada tahun 2023. Itu tentu dengan diiringi dengan peningkatan GDP dan kesehatan yang terus membaik.

"2022 kami perkirakan belum kembali ke posisi 2019. Dalam hitung-hitungan kami posisi kembali ke 2019 di tahun 2023, masih panjang perjalanan ini. Tapi masih ada titik terang karena pasar Indonesia sangat menggiurkan karena kepemilikan mobil masih rendah di banding pasar ASEAN lainnya. Di sini masih banyak peluang atau potensi sepanjang makro ekonomi dan health view bagus. Kalau GDP bisa dipertahankan seperti 2019 dipertahankan maka pasar Indonesia masih sangat menjanjikan untuk terus naik," papar Amel.

Selain masalah kesehatan, Daihatsu memang sangat hati-hati melihat pasar Indonesia. Ada beberapa pertimbangan selain masalah kesehatan ekonomi yang menentukan strateginya.

"Kami selalu melihat dan mengestimasi pasar berdasarkan berbagai hal, dari makro ekonomi, suplay, demand, dan kita juga lihat health view. Makro paling utama adalah bagaimana GDP, bagaimana kurs rupiah, bagaimana dengan inflasi, bagaimana investasi itu jadi patokan kita. Supply dirven juga dipengaruhi produk dan merek baru yang diluncurkan. Demand driven juga kita cek untuk melihat apakah ada kemungkian permintaan baru yang disebabkan perubahan lifestyle, dan yang terbaru karena ada COVID kita juga memperkirakan vaksin ini akan efektif atau tidak dan kapan," tutup Amel. (dri)




DIBACA : 28 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved