Selasa, 21 / 09 / 2021
Kamis, 16 September 2021 - 12:16 WIB
Kapolri Perintahkan Anggotanya Bersikap Humanis ke Masyarakat
Selasa, 14 September 2021 - 13:25 WIB
TLCI #2 Riau Bantu Warga Terdampak Banjir
Catatan Ekspedisi Novrizon Burman
Menerabas Rimba TNBT, Menguak Misteri Bukit Harimau Sumatera!

| PERISTIWA
Minggu, 22 Agustus 2021 - 21:09:11 WIB
Harimau Sumatera bersama dua anaknya terekam kamera jebak milik Balai TNBT. 
TERKAIT:
‘’WOW.. Hehati Rimau, Bang,’’ tulis Ahmad Fadli, begitu foto lagi selfie di depan Pohon Merwasa berusia 200 tahun di puncak Bukit Tigapuluh ku-share di salah satu grup WhatsApp, Sabtu (7/8/2021), pukul 10.13 WIB.

‘’Rimau yang takut sama die,’’ canda Aspandiar.

‘’Datuk Panglima Kuala Cenaku,’’ guyon Ahmad Fadli.

 ‘’Alhamdulillah, tak ketemu Ketua, tapi kami sempat selfie di perlintasan Datuk,’’ jawabku pukul 14.52 WIB, begitu dapat sinyal saat Tim Ekspedisi TNBT & TNTN PWI Provinsi Riau, meninggalkan Camp Granit Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menuju camp Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

***

Lega. Ya lega, lahir bathin. Begitu sampai di pos akhir, tanda sudah ke luar dari rimba Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), yang berada di Desa Talang Lakat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.

Bermacam rasa berkecamuk di dada.  Mulai dari waswas berserobok Harimau Sumatera atau Panthera tigris sumatrae, sampai kasihan melihat Wiwik Widaningsih yang—sejak pertengahan perjalanan mendaki Bukit Lancang—kakinya keram, dan Jonathan Surbakti yang jalannya terseok-seok sudah tidak kuat lagi melangkah.

Betapa tidak waswas. Kepala Balai TNBT Fifin Arfiana Jogasara mengatakan di kawasan TNBT ada 51 ekor Harimau Sumatera! Itu dikatakannya sehari sebelum kami menerabas rimba TNBT.

Jumat (6/8/2021) malam, dihiasi langit hitam kelam bertaburkan sinar ribuan bintang-bintang, dengan duduk santai di atas karpet dan rumput di sekitar tenda-tenda Camp Granit, Fifin Arfiana Jogasara memaparkan bahan presentasenya yang berjudul Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, The Hill of Sumatran Tiger (Bukit Harimau Sumatera).

Kepada Tim Ekspedisi TNBT  & TNTN PWI Provinsi Riau yang berjumlah 45 orang pun diputar beberapa cuplikan video. Salah satunya, rekaman kamera jebak milik Balai TNBT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang dipasang 21 hingga 27 Maret 2021, memperlihatkan tiga individu Harimau Sumatera.

Terekamnya tiga ekor Harimau Sumatera ini, menurutnya, menandakan bahwa habitat masih terjaga dengan baik, serta ketersediaan makanan yang cukup, sehingga satwa bisa berkembang biak dengan baik

Induk Harimau Sumatera dan dua ekor anaknya yang sudah remaja itu tertangkap kamera jebak, terlihat sehat dan dalam keadaan baik di TNBT.

‘’Ini salah satu bukti pendukung terhadap capaian upaya peningkatan populasi satwa liar, prioritas harimau sumatera di TNBT,’’ ungkap Fifin Arfiana Jogasara.

Harimau Sumatera merupakan satwa dilindungi sebagaimana diatur dalam Permen LHK Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018. Adapun status konservasi IUCN terhadap jenis ini adalah terancam punah.

TNBT memiliki luas 144.223 hektare, terletak di dua provinsi yaitu Riau dan Jambi. TNBT yang dikenal sebagai The Hill of Sumatran Tiger atau Bukit Harimau Sumatera, hanya dijaga oleh 28 orang Polisi Kehutanan.

***

‘’Pelaku illegal logging, ngences melihat video ini, Kanda,’’ komentar Muhammad Iqbal, begitu video dan foto Pohon Mersawa berusia 200-an tahun saya posting di Facebook, Ahad (/8/2021), pukul 10.38 WIB.
‘’Full ngences,’’ balasku.
‘’Jaga terus Kanda. Pastikan, 12 orang itu tetap di pohon itu selama mungkin agar para pelaku illegal logging tidak ke sana membawa chainsaw,’’ candanya.
‘’Nggak perlu Bro, sudah ada 51 Harimau Sumatera yang menjaganya. Pun sampai ke TKP, mesti mendaki bukit terjal,’’ sebutku.
‘’Alhamdulillah, kanda... #Salamlestari,’’ jawabnya.
‘’Meleleh air liur perusahaan kertas......dueeeeeeeeet....niiiiiii,’’ celetuk Fakhruddin Ibnu Burhan, masih di statusku ini.
‘’Untung tidak ditebang buat jalur, om NB,’’ sebut T Khalil Jaafar.

***

Sabtu (7/8/2021), usai menikmati sunrise dan sarapan, dilanjutkan senam peregangan dipimpin Kunni Masrohanti, tepat pukul 07.00 WIB, Tim 18 memulai petualangannya menerabas rimba hutan TNBT.

Usai berdoa dan mendapat pengarahan singkat di depan pintu keluar Camp Granit, Tim 18 ditambah enam orang petugas Balai TNBT –yang sudah biasa membawa wisatawan lokal mau pun mancanegara trekking ke Bukit Lancang—, langsung menuju “pintu” masuk hutan.

Perasaan waswas pergi entah ke mana, begitu melihat semangat  teman-teman. Teristimewa melihat Andi Moenandar, Koordinator Pelayanan Balai TNBT yang jadi Ketua Pemandu Tim 18, serta dua petugas wanita Balai TNBT yang masih single.


Ambil foto dulu di Telaga Teduh, sebelum memulai perjuangan mendaki Bukit Lancang.

Berjalan sekitar 15 menit untuk pemanasan, kami sampai di Telaga Teduh untuk ambil foto sebentar sebelum memulai trek mendaki. Sayang, telaga tidak terurus karena tidak ada dana.
 
‘’Bangunan itu, dulu rumah untuk tamu Balai TNBT,’’ ujar Andi Moenandar sambil menunjuk rumah yang pintu depannya menghadap telaga, tapi sekarang hanya tinggal sebagian tiang-tiangnya.

Mulai dari sini, perjuangan dimulai. Jalan terjal mendaki, dengan kemiringan 45 sampai 50 derajat, mesti dilalui. Langkah pun mesti hati-hati lantaran lintasan dipenuhi daun-daun membusuk dan sisa embun, membuat jalur trek licin.

Diawali dengan Jonathan Surbakti, wartawan Sipritriau.com, yang berulang kali berhenti mengambil nafas. Diakhiri Wiwik Widaningsih, wartawan Riau Pos, yang kakinya kram. Akhirnya, rombongan terpecah dua kelompok.

Rombongan terpecah dua, sebagian dikawal Andi Moenandar, duluan mendaki Bukit Lancang yang berada di ketinggian 500 mdpl. Sebagian lagi –termasuk penulis—, menemani Wiwik dan Jonathan yang banyak berhenti.


Tim 18 Ekspedisi PWI Riau melewati kawasan Demplot Tumbuhan Langka Bunga Bangkai.

Sejam kemudian, setelah melompati parit kecil yang dialiri air jernih, mata langsung tertumbuk di papan nama milik Balai TNBT bertuliskan, ‘’Demplot Tumbuhan Langka Bunga Bangkai (Amorphophallus sp.) seluas satu hektare.’’

Kami beruntung, karena salah seorang petugas Balai TNBT yang menemani Tim 18 adalah pakar Bunga Bangkai. Kami sempat diperlihatkan di sekitar demplot (demonstrasi plot), beberapa tumbuhan kecil cikal bakal bunga bangkai.

Persis satu jam mendaki pelan-pelan dibantu dengan tongkat dibuat dari batang kayu untuk penguat pijakan, menjelang sampai ke tujuan akhir Tim-19, yakni pohon raksasa Mersawa berusia 200-an tahun, terlihat beberapa pohon-pohon berukuran besar.

Begitu didekati, ternyata pohon Meranti Bunga (Shorea parvifolia Dyer) yang umurnya diperkirakan puluhan tahun, saya sempat memeluknya. Termasuk, Pohon Kayu Batu (xanthophyllum flaves) besar, berumur hampir seratus tahun.


Tim 18 Ekspedisi PWI Riau dan petugas Balai TNBT foto bersama di depan Pohon Mersawa.

Berjalan ke atas sekitar 10 menit, akhirnya sampailah ke tujuan akhir Tim 18 ke Bukit Lancang, yakni Pohon Mersawa (Anisoptera Marginata Korth), termasuk dalam jenis tumbuhan Dipterocarpaceae. Terlihat, rombongan pertama sedang menikmati kopi dan selfie di depan “raksasa” Bukit Lancang.

Luar biasa! Diamater Pohon Mersawa ini empat meter. Dibutuhkan 12 orang dewasa untuk memeluk pohon ini dengan merentangkan tangan pada banir (akar yang menonjol ke luar di bagian pangkal). Itu kami buktikan dengan merekam dalam bentuk video.

Andi Moenandar, Koordinator Pelayanan Balai TNBT yang jadi Ketua Pemandu Tim Ekpedisi PWI Riau ke Bukit Lancang mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 cukup banyak wisatawan lokal berkunjung menikmati view hutan Bukit Tigapuluh.

‘’Sesekali wisatawan manca negara ada yang minta ditemani trekking menaiki Bukit Lancang, seperti rute kita ini. Bahkan, mereka biasanya bertiga atau berempat, bermalam di tenda di sekitar bibir hutan menikmati suara-suara binatang.’’

Menurutnya, mereka yang datang adalah wisatawan dengan minat khusus, trekking sambil menikmati tumbuhan unik di sepanjang jalur Bukit Lancang, antara lain bunga bangkai, pasak bumi, Cendawan Muka Rimau (Refflesia hasseltii). Di samping tentunya mengunjungi Telaga Teduh, Pohon Mersawa, dan Batu Lumba-lumba yang tidak jauh dari Pohon Mersawa

Dia membenarkan bahwa lintasan trek kami menaiki dan menuruni Bukit Lancang, dulu bisa dilewati alat berat untuk membersihkan trek. Tapi, sekarang jalan setapak untuk trekking itu dibiarkan saja dipenuhi daun-daun dan akar.

Rasa penat pun buyar, dan kontan terbayar!

***

“Ntar dulu bang, ada yang ‘ngikuti’ abang,’’ sebut Leni Yulika—yang kebetulan ada di rumah–, begitu aku sampai di rumah, Ahad (8/8/2021) malam, dari Ekspedisi PWI Provinsi Riau.
Aku lantas duduk menghadap kiblat, sementara adik ipar di belakang punggung melafal ayat-ayat Al-Qur'an “mengusir” sang pengikut pulang ke rimba asalnya.
“Alhamdulillah, walau agak berat, mau dia pulang, Bang,” senyumnya.
‘’Pria kerdil, pakai semacam peci,’’ terang adik ipar, menarasikan siapa yang mengikutiku.
‘’Kulihat, ada sinar terang di dalam pohon (Mersawa) itu, Bang,’’ ujar adik iparku lagi.
“Sinar apa ya.’’
“Sinarnya terang sekali, semacam barang-barang kuno, pusaka. Ada khodam-nya, penjaganya.’’
“Bisa ditarik tuh.’’
Insya Allah, bisa..’’
“Ampun dah, kalau naik lagi ke sana,’’ guyonku.
 
Wallahu a’lam bishawab. ***

Novrizon Burman
Pemimpin Redaksi Riausatu.com

DIBACA : 650 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved