Jum'at, 02 / Oktober / 2020
Testimoni Pasien Covid-19 Berjuang untuk Sembuh, Ibnu: Virus Ini Real, Bukan Hoax!

| PERISTIWA
Selasa, 04 Agustus 2020 - 10:14:00 WIB
Ibnu Mas'ud, di ruang perawatannya di RS Arifin Ahmad Pekanbaru.
TERKAIT:
 
 
PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Jangan panik. Berpikir positif. Jaga kondisi tubuh. Setidaknya, inilah sejumlah hal yang ditekankan mereka yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona penyebab Covid-19.

Mereka melalui hari-hari yang berat, emosi yang campur aduk, tetapi ada yang berhasil melewatinya. Dan, sembuh.

Dari cerita mereka yang beragam, kita bisa mendapatkan gambaran mengenai gejala yang dirasakan, perjuangan mereka melawan virus, hingga cara penyembuhannya. Setiap pasien membawa cerita yang berbeda.

Ibnu Mas'ud, pemilik perusahaan umroh dan haji plus, 53 tahun, yang saat ini berangsur sembuh, mengisahkan perjuangannya melawan Covid-19 selama 14 hari.


Bismillah,
Saya Ibnu Mas'ud, Alhamdulillah qhadharallah masih dirawat di RSUD Arifin Achmad (AA) akibat terkena wabah Covid-19.

Saya ingin berbagi pengalaman bersama saudara-saudaraku tentang apa yang saya alami dan apa yang saya rasakan  sebelum divonis positif Covid-19.

Awal-awal munculnya wabah ini, saya percaya penuh bahwa ini wabah berbahaya dan mudah menyebar. Tapi, kebiasaan berjalan dan keluar rumah, tidak pernah berhenti.

Sering diingatkan agar tetap di rumah, dan keluar bila perlu saja. Pakai masker dan sering cuci tangan, adalah sesuatu yang tidak disiplin dilakukan. Karena badan ini terasa enak-enak saja.

Kadang untuk hal yang penting, saya penuhi ajakan kawan keluar untuk hanya sekadar ngopi atau sarapan. Duduk tanpa jaga jarak yang aman. Tidak pakai masker yang benar. Masker hanya digantung di dagu atau di leher.

Bahkan, awal Juli saya ke jakarta untuk urusan yang sebenarnya masih bisa ditunda. Saya yakin saja dengan hasil rapid test yang non reaktif. Padahal, saya tahu bahwa rapid test hanya tes awal dan hasilnya tidak 100 persen akurat.

Akhirnya, Selasa malam, tanggal 21 Juli 2020, saya merasakan badan kurang enak. Selera makan mulai terganggu. Esoknya, saya langsung ke RS untuk minta dirawat.

Setelah diperiksa, dokter sampaikan hasilnya saya terkena DBD. Dengan trombosit yang turun menjadi 109.000. Saya yakin bahwa ini DBD. Selama tiga hari, DBD-nya diobati. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan.

Hari keempat muncul gejala lain. Batuk disertai dahak berdarah. Tenggorokan terasa kering. Saya minta dokter periksa lagi. Siang itu juga saya di tes SWAB dan difoto thorax. Setelah itu langsung dipindahkan ke kamar isolasi. Dengan kondisi dan daya tahan tubuh menurun. Makan sudah susah sekali. Minum air terasa tidak manis lagi.

Sambil menunggu hasil tes SWAB, saya minta dipindah ke RSUD AA. Dengan pertimbangan, tim pencegahan wabah Covid-19 lebih banyak dan lengkap, dan punya bangunan khusus untuk pasien Covid-19.

Alhamdulilah, Ahad (26/7/2020) malam, saya dipindah dengan kondisi cukup lumayan menderita dan rasa badan tidak menentu.
Di RSUD AA langsung diberikan obat dan infus. Alhamdulillah, Senin paginya rasa badan lumayan enak. Walau untuk makan masih hilang selera.

Modal dzikir, doa, dan baca Alquran jadi penambah semangat dan membuat saya bertambah yakin bahwa ini ujian yang Allah berikan. Alhamdulillah, sampai hari ke-13 ini kondisi bertambah baik. Dan, sudah empat hari infus tidak dipasang lagi.

Saudaraku, dari kejadian yang saya alami di atas. Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya sudah banyak melakukan kesalahan. Abai dan cuai untuk patuhi protap Covid-19. Dan terkadang, cenderung meremehkan.

Akibatnya, saya sendiri benar-benar mengalaminya. Alhamdulillah, rupanya apa yang saya alami masih ringan dibanding beberapa pasien Covid-19 lain, yang juga dirawat di gedung yang sama.

Teringat saya dengan nasihat Rasulullah tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi wabah mematikan. Rasulullah SAW mengingatkan, "Tha'un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka, apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari darinya." (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Rasulullah juga menganjurkan untuk isolasi antara yang sedang sakit dengan yang sehat agar penyakit yang dialaminya tidak menular kepada yang lain. Hal ini sebagaimana hadits: "Janganlah yang sakit dicampur-baurkan dengan yang sehat." (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Dengan demikian, penyebaran wabah penyakit menular dapat dicegah dan diminimalisir.

Aktivitas inilah yang sekarang dikenal dengan social distance, yakni suatu pembatasan untuk memutus rantai penyebaran wabah Covid-19. Caranya adalah jauhi kerumunan, jaga jarak, dan di rumah saja. Kegiatan social distance tak hanya dalam muamalah seperti pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, pemerintahan, dan sebagainya yang langsung berhubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dalam ibadah.

Dengan demikian, shalat berjamaah di masjid boleh diganti dengan salat di rumah. Shalat Jumat pun boleh diganti dengan salat Zhuhur di rumah guna menghindari wabah penyakit. Inilah yang kemudian dalam hadits yang dijadikan kaidah fikih, yakni la dharara wala dhirar; 'tidak boleh berbuat mudarat dan hal yang menimbulkan mudarat' (HR Ibn Majah dan Ahmad ibn Hanbal dari Abdullah ibn 'Abbas), dijadikan pedoman untuk menghindari mudarat yang lebih besar.

Hadits ini lah saya tidak serius amalkan dan kerjakan. Walau sudah baca berulang-ulang. Padahal, disini jelas dan terang bagaimana Rasulullah menjelaskan dan berikan nasihat.

Kesimpulannya. Bahwa apa yang saya alami ini adalah ujian dan pelajaran berharga yang perlu saya berbagi kepada saudara-saudaraku.

Yang namanya New Normal, bukanlah sesuatu yang kita jalani dengan kebebasan tanpa ikut aturan. Tapi, sebuah situasi baru yang kita benar-benar harus ikuti dan jaga agar tubuh bisa menghadapi wabah.

Kebiasaan mengusap muka, memasukkan jari ke hidung dan mulut, menggosok gosok mata adalah satu kebiasaan yang sangat berpotensi sebagai pengantar virus ke dalam tubuh. Apalagi, dalam kondisi tidak cuci tangan sebelumnya.

Mari saudaraku, patuhilah protap pencegahan Covid-19. Jangan nekad untuk mencoba menikmati wabah ini. Karena kondisi daya tahan kita tidak sama. Jika kita kena, akan ada beberapa orang yang dekat juga berisiko kena.

Saya sudah membuat empat orang terkena wabah ini. Tanpa tahu kapan dan di mana virus ini masuk ke tubuh mereka. Saya merasa sedih dan menyesal. Gara-gara kelalaian saya, orang lain dan orang terdekat saya ikut merasakan akibatnya.

Dan perlu saya beritahukan, virus Corona ini bukanlah kutukan dari Allah SWT.  Virus ini juga bukan hoax, tapi nyata. Karena virus ini berada di dalam diri saya selama belasan hari, dan saya berjuang supaya sembuh.

Semoga Allah angkat virus ini dari tubuh saya dan orang-orang yang sedang mengalaminya dan tidak meninggalkan sedikitpun. Aamiin.

Mohon maaf mungkin tulisan ini mengganggu kenyamanan dan ketenangan saudaraku. (zon)

DIBACA : 300 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved