Sabtu, 24 / Oktober / 2020
Dugaan Rekayasa Pasien Covid-19 Berujung Laporan ke Polda Riau

| HUKRIM
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 14:02:09 WIB
PEKANBARU, RIAUSATU.COM-Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dan Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina dilaporkan ke Polda Riau oleh keluarga almarhumah W. Laporan ini buntut dari dugaan bahwa W yang diketahui meninggal pada 28 September 2020 dan negatif namun dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Laporan ke Polda Riau itu dilakukan langsung oleh Wince, anak korban bersama kuasa hukumnya Suroto. Dia mengatakan selain melaporkan dugaan manipulasi data W, pihaknya juga melaporkan dugaan pidana khusus. Namun, ternyata laporan itu tidak dapat dilakukan bersamaan.

"Kita sudah laporkan ke Ditreskrimum dan Ditreskrimsus Polda Riau," kata Suroto, Jumat (16/10), sebagaimana dilansir merdeka.com.

Suroto mengatakan, RS Ibnu Sina dan Diskes Pekanbaru diduga melanggar pasal 263, lalu 267 KUHP, pasal 14 UU No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, pasal 55 UU nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik, pasal 28 ayat 1 jo pasal 45 A UU no 19 thn 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik, pasal 2 dan 3 UU No. 31 thn 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain dugaan manipulasi data, laporan itu juga lantaran tak kunjung dipindahkannya makam W dari pemakaman khusus Covid-19 ke pemakaman umum oleh pihak terkait.

Dari informasi yang dirangkum, almarhumah W kala itu dibawa ke rumah sakit oleh keluarga karena sakit dan tak sadarkan diri. Sesampainya di RS Ibnu Sina, almarhumah diperiksa dan divonis mengalami gagal ginjal. Saat diperiksa paru-parunya, ternyata bersih dari gejala Covid-19.

Dengan diagnosa itu, almarhumah W diharuskan untuk melakukan pencucian darah. Namun upaya itu gagal dilakukan karena darah pasien telah menggumpal sehingga menganggu sejumlah organ lainnya, termasuk paru-paru.

Selanjutnya, petugas medis kembali melakukan pemeriksaan paru-paru pasien dan ditemukan bercak. Sehingga pasien dipindahkan untuk dirawat di ruang isolasi dan dilakukan uji swab.

Upaya cuci darah dilakukan kembali namun kala itu pasien koma dan nahas pasien menghembuskan nafas terakhirnya. Namun sebelum meninggal dunia, hasil swab pertama keluar dengan hasil negatif. Sehingga keluarga meminta almarhum di bawa pulang dan makamkan secara normal. Permintaan keluarga itu tidak mendapat izin dari pihak RS dengan alasan swab kedua belum keluar hasilnya.

Karena hasil swab kedua tak kunjung keluar, maka pihak keluarga mengikhlaskan pasien dimakamkan sesuai dengan protokol Covid-19. Tak lama, hasil swab kedua pun keluar dengan hasil negatif.

Namun, pada 30 September 2020, keluarga pasien mendapatkan laporan bahwa pasien masuk dalam daftar pasien Covid-19 yang meninggal dunia dengan umur 62 tahun, padahal umur pasien 66 tahun.

Keluarga juga menemukan kejanggalan lain yakni pasien dinyatakan meninggal pada 26 Septermber 2020 oleh Dinkes Pekanbaru, padahal meninggal pada 28 September. Bahkan diumumkan meninggal tanggal 30 oleh media gugus tugas Covid-19.

Keluarga juga telah mengonfirmasi hal ini pada Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, dan rumah sakit Ibnu Sina. Hasilnya W memang masuk dalam daftar pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Sehari kemudian, Suroto kembali melaporkan Dinkes Pekanbaru atas dugaan memanipulasi data pasien ke Ditreskrimsus Polda Riau, Kamis (15/10).

"Ya, kita juga laporkan Dinas Kesehatan Pekanbaru atas dugaan tindak pidana korupsi anggaran dana Covid-19," kata Suroto.

Menurut Suroto, langkah ini dilakukan agar permasalahan covid-19 di Pekanbaru menimbulkan titik terang.

"Harapannya agar supaya cepat diproses dan terang benderan kenapa ada kesalahan data, apakah itu disengaja atau tidak," jelasnya.

Kabid Humas Polda Riau, Kombes Sunarto membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari dari keluarga almarhumah W. "Iya, keluarganya melapor. Terlapornya Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru," kata Sunarto.

Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru, Firdaus mengatakan pelaporan ke pihak berwajib adalah hak seluruh masyarakat.

"Kita akan jalani proses hukumnya sebagaimana hukum yang berlaku. Kita tidak salahkan masyarakat, komplen kepada kita wajar. Itulah kepuasan masyarakat. Kita juga tidak bisa marah kepada staf kita, itu juga tidak disengaja," kata Firdaus.

Menurut Firdaus, laporan itu adalah pelajaran agar petugas kesehatan dalam hal ini Dinas Kesehatan Pekanbaru lebih berhati- hati dan ihklas dalam melayani masyarakat.

"Kita ingatkan kepada Dinas Kesehatan Pekanbaru agar lebih teliti dan berhati-hati dalam bekerja. Walau kita tahu petugas lelah," tuturnya.

Firdaus juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Pekanbaru, khususnya keluarga pasien yang merasa dirugikan atas kejadian itu.

"Kepada keluarga almarhumah, kami juga ikut berduka, belasungkawa. Atas kelalaian petugas kami, kami mohon maaf," kata dia.

Namun, Firdaus menampik adanya isu bahwa dugaan manipulasi data yang diduga dilakukan oleh Dinas Kesehatan Pekanbaru dan rumah sakit dilakukan agar pihak terkait dapat mengeklaim dana Covid-19 yang telah disiapkan pemerintah.

"Jadi kalau ada kekeliruan-kekeliruan di dalam positif dan negatif itu, itulah manusia. Saya yakin dan percaya tidak ada unsur lain seperti yang beredar ini direkayasa agar bisa dicairkan, saya tidak yakin apalagi itu rumah sakit Islam, saya yakin tidak ada kecurangan hanya karena uang," jelasnya. (dri)


DIBACA : 40 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved