Rabu, 03 / Juni / 2020
SIMPAN SAJA RINDUMU

| JENDELA
Kamis, 14 Mei 2020 - 13:32:35 WIB
Novrizon Burman.
TERKAIT:
INI hari di mana kita dihadapkan dengan kondisi yang tidak biasa. Bahkan, bisa disebut luar biasa. Apa yang dulu tidak terbayangkan sama sekali, telah menjadi sebuah realitas yang harus dijalani. Suka atau tidak suka. Menerima atau pun tidak menerima.

Virus Corona yang menjadi penyebab Covid-19 telah mampu mengubah banyak hal. Bahkan merusak dan memorak-porandakan tatanan peradaban yang sudah dibangun beratus tahun. Virus Corona juga mampu mengubah –setidaknya untuk sementara waktu, menjelang penyebaran virus mereda—sejumlah tradisi yang telah dilewati sekian ratus kali pergantian purnama.

Mudik, sebagai salah satu tradisi masyarakat muslim Indonesia, oleh karena Covid-19 juga, terpaksa tidak lagi dirasakan dalam Lebaran tahun ini. Mudik yang intinya menjenguk kampung halaman, bersua dan bersilaturahmi dengan segenap handai taulan di daerah asal, menapak tilas jejak-jejak lama di tanah kelahiran, untuk sementara harus ditunda diurungkan dulu.

Oleh karena Covid-19 itu juga, Pemerintah –baik pusat maupun daerah—telah menyiapkan, bahkan telah meluncurkan sejumlah regulasi atau aturan yang pada dasarnya melarang semua orang untuk melakukan perjalanan mudik, kecuali untuk sejumlah hal yang telah digariskan. Pintu-pintu masuk atau keluar ke sejumlah daerah dijaga ketat oleh petugas, menanyai setiap pengendara yang melintas.

Bila alasan melakukan perjalanan tidak sesuai dengan aturan yang digariskan oleh para pemangku kepentingan atau aturan yang berlaku, maka konsekuensi yang harus dijalani adalah perjalanan dibatalkan, dan kita disuruh kembali ke titik keberangkatan. Ada juga aturan untuk menjalani isolasi dalam jangka waktu tertentu, terutama bagi calon pemudik yang dicurigai terinfeksi Covid-19.

Pada dasarnya, semua aturan itu bermuara pada satu tujuan, yaitu pelarangan untuk melakukan perjalanan mudik. Kepulangan sejumlah orang dari satu tempat ke tempat tertentu, dicemaskan akan semakin memperluas penyebaran Covid-19, yang pada akhirnya akan semakin banyak korban jiwa berjatuhan di saat pandemic Covid-19 tengah menuju puncak. Apalagi, perjalanan sejumlah orang dari daerah zona merah ke zona hijau.

Apa boleh buat, di tengah kondisi ekonomi yang amat sulit belakangan ini, kondisi makin diperberat oleh tidak terpenuhinya kebutuhan batin—yang pada kondisi-kondisi tertentu mengalahkan kebutuhan jasmaniah. Rindu kampung halaman, rindu keluarga, rindu handai taulan, rindu teman-teman sepermainan ketika kecil dulu, rindu dengan mantan pacar di kampung, untuk sementara mesti disimpan rapat-rapat.

Kendati kemajuan iptek di bidang teknologi informasi telah memberi banyak kemudahan, antara lain komunikasi tatap muka jarak jauh melalui video call, tetap saja ada yang terasa kurang bila dibandingkan dengan bertatap muka langsung, bersenda gurau dan bercengkerama, bercerita tentang langit biru dan laut, dan lainnya.

Untuk sementara, dan itu entah sampai kapan, simpan saja rindumu. Biarkan kenangan tiduran siang di pondokan sawah di bawah semilir angin yang sejuk menjadi kenangan yang asyik untuk diingat. Biarkan pula keinginan yang membuncah untuk bertemu kawan lama dalam acara bertajuk reunian menjadi sesuatu yang tertunda, entah sampai pabila.

Oleh karena Covid-19 itu juga, membuat kita di Lebaran tahun ini tidak bisa sungkeman sama bapak atau ibu yang sudah tua dan renta di tanah leluhur, memohon dimaafkan salah dan dosa yang pernah diperbuat. Jemari tangan kita yang halus mulus juga tak bisa lagi untuk merambah semak-semak yang mengelilingi makam bapak dan ibu, dan makam kerabat-kerabat terdekat kita lainnya.

Sebagai pemegang ororitas, Pemerintah Provinsi Riau telah mengeluarkan imbauan untuk melarang perjalanan mudik. Langkah serupa juga telah dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Ditambah dengan rencana Pemprov Riau mengusulkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) telah disetujui oleh Kementerian Kesehatan RI, maka lengkap sudahlah aturan bagi umat muslim di daerah ini untuk tidak melakukan perjalanan mudik dalam Lebaran tahun ini.

Sebaiknya, simpan saja rindumu itu (entah untuk sampai kapan?). Mana tahu badai Corona yang kini tengah melanda cepat berlalu, dan kita masih diberi umur yang panjang; maka di Lebaran tahun mendatang kita bisa lagi melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman yang sangat dirindukan. Menumpahkan rindu yang tertahan begitu lama, begitu susah, bersebab ulah Corona.*

Novrizon Burman,
Pemimpin Redaksi Riausatu.com

DIBACA : 52 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved