Kamis, 05 / 08 / 2021
Gubri Polisikan Pendemo Berspanduk 'Tangkap Gubernur Drakula'

| PEMPROV. RIAU
Jumat, 25 Juni 2021 - 14:45:01 WIB
PEKANBARU, RIAUSATU.COM - Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa beberapa waktu lalu dengan menyebut Gubernur Riau, Syamsuar sebagai drakula. Tak terima dengan editan foto dan sebutan itu, Syamsuar membuat aduan ke Polda Riau.

Kuasa Hukum Syamsuar, Alhendri mengatakan, awalnya Syamsuar mendapat laporan dari anak buahnya bahwa ada pendemo yang menyebutkan dirinya sebagai drakula.

"Iya, Pak Gub dapat laporan dari stafnya ada demo dari massa Aliansi Mahasiswa Penyelamat Uang Negara dikoordinir oleh seseorang bernama Alqodri," kata Alhendri, Kamis (24/6), sebagaimana dilansir merdeka.com.

Alhendri mengatakan, para mahasiswa itu membawa spanduk dengan foto Syamsuar yang sudah diedit. Lalu foto itu diedit dengan gigi taring panjang layaknya drakula.

Dalam spanduk itu juga tertulis 'Tangkap Gubernur Drakula' yang dibentangkan di depan pintu masuk Kejaksaan Tinggi Riau, Rabu (2/6). Alhendri menilai, perbuatan itu merupakan penghinaan.

"Ada spanduk bermuatan penghinaan saat demo mahasiswa itu. Ada karikatur wajah dia yang seakan-akan diedit seperti drakula. Tetapi ada tulisan 'Tangkap Gubernur Drakula', ini kalau dikaji jelas arahnya itu ke Pak Syamsuar," ucap Alhendri.

Alhendri menegaskan, Syamsuar membuat surat aduan yang dikuasakan ke dia. Sebab, Syamsuar merasa dirugikan secara pribadi.

"Jadi aduan yang diajukan secara pribadi, bukan sebagai gubernur," jelas Alhendri.

Surat aduan itu disampaikan ke Mapolda Riau pada 2 Juni usai demo berlangsung. Bahkan pengaduan itu telah diterima Polda Riau dan saat ini masih menunggu pemeriksaan.

"Pengaduan sudah diterima di SPKT Polda Riau, 2 Juni 2021. Kalau mau demo ya silakan demo saja, kritisi, tapi tindakannya jangan sadis seperti itu," tegasnya.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa berdemo di halaman kantor Kejaksaan Tinggi Riau awal Juni lalu. Massa mendesak Korps Adhiyaksa itu menyelidiki kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos) Rp56,7 miliar di Pemkab Siak tahun anggaran 2014-2019.

Dugaan korupsi itu terjadi saat Syamsuar masih menjabat sebagai Bupati Siak. Massa berorasi dan membentangkan spanduk yang bertuliskan desakan agar penyidik segera memeriksa Syamsuar.

Sementara itu, Alqudri Tambusai selaku kordinator pendemo mengaku tidak takut dengan langkah hukum yang dilakukan Syamsuar. Dia menilai langkah Syamsuar seperti anak-anak dan panik.

"Sebagai warga negara berdemokrasi, saya persilahkan karena itu akses dan dilindungi undang-undang. Tetapi menurut kami itu menunjukkan bahwa Syamsuar orang yang anti kritik, tidak sesuai budaya demokrasi yang saling laporkan," ucap Alqudri.

Menurut Alqudri, pengaduan ke Polda Riau itu tak mencerminkan jiwa seorang pemimpin. Dia membandingkan Syamsuar dengan sikap Presiden Joko Widodo yang tidak pernah membuat pengaduan karena dikritik.

"Ini bukti beliau (Syamsuar) sosok yang anti kritik dan beliau harus banyak belajar dari pemimpin kita Pak Jokowi. Pak Jokowi sering dihina, tekanan banyak tetapi tidak pernah mengadu," ucapnya.

Dia berharap Syamsuar dapat membuka ruang dialog atas aksi demonstrasi yang mengkritisinya. Karena, para pendemo juga ingin mendapat penjelasan soal laporan ke Kejaksaan Tinggi terkait dugaan korupsi bantuan sosial Rp 56,7 miliar di Pemkab Siak.

"Secara etika seharusnya pak Gubernur ini membuka ruang dialog, ini malah seperti orang panik. Kalau beliau bersih ya enggak perlu panik, enggak perlu kalang kabut dan undang mahasiswa untuk diskusi," katanya.

Alqudri menyampaikan, alasan mengedit foto Syamsuar jadi drakula itu hanya perumpamaan terkait kasus korupsi.

"Setiap orang bebas ya untuk interprestasikan foto itu. Ini lebih kepada substansi karena drakula ini simbol sesuatu yang menghisap darah kepada korban, korupsi itu membunuh pelan-pelan dan tindakan lain yang membuat rakyat menderita ya itu, analoginya begitu," kata Alqudri.

Dia juga mengatakan, tudingan drakula itu terhadap jabatan gubernurnya, bukan sosok pribadi Syamsuar.

"Redaksional kami tidak ada Syamsuar drakula, tidak ada seperti itu. Kami kan pakai Gubernur, Gubernur Drakula. Jadi menurut kami butuh kecerdasan atau intelektual lebih untuk melihat ini. Jangan kekanak-kanakan lah," tambahnya.

Alqudri berharap Kejaksaan Tinggi Riau tetap mengusut laporan mereka terkait dugaan korupsi bantuan sosial di Siak. Apalagi dugaan itu mengarah kepada Syamsuar yang saat itu menjabat sebagai Bupati Siak.

"Kami berharap jadikan hukum ini sebagai panglima. Menjalankan hukum dengan sebaik-baiknya, khususnya kejaksaan dalam memproses ini (dugaan korupsi). Itu satu hal berbeda, kasus beliau untuk di kejaksaan harus tetap lakukan penyelidikan di lapangan. Kami siap kalau kejaksaan mau minta bukti-bukti," tandasnya. (dri)

DIBACA : 154 KLIK

Kami menerima tulisan mengenai informasi yang bernilai berita
Silahkan SMS ke 081371554444 atau Email: redaksi.riausatu@gmail.com
Lengkapi data diri secara lengkap.

 
Index

Konten SPORT | POLITIK | HUKRIM | OTONOMI | NASIONAL | PERISTIWA | IPTEK | EKONOMI | OTOMOTIF | JENDELA | ADVERTORIAL | ROHIL | INHIL |
RIAU | DPRD PROV. RIAU
Management TENTANG KAMI | REDAKSI | PEDOMAN MEDIA SIBER | INFO IKLAN | DISCLAIMER | INDEX
Copyright © 2014 RiauSatu.Com, All Rights Reserved